Serbaseru – Sinopsis Film Solata mengangkat kisah menyentuh tentang perjuangan seorang pria yang mencoba menemukan arti hidup dan harapan baru di tengah pelosok Tana Toraja.
Film ini akan tayang di bioskop Indonesia pada November 2025 dan digarap oleh sutradara Ichwan Persada dengan sentuhan budaya lokal yang kuat dan penuh makna.
Cerita Sinopsis Film Solata berpusat pada Angkasa, seorang pria asal Jakarta yang sedang berada di titik terendah hidupnya.
Ia baru kehilangan pekerjaan, kekasih, dan ibunya yang meninggal dunia. Untuk menenangkan diri, Angkasa memutuskan menjadi relawan guru di daerah terpencil, tepatnya di Pegunungan Ollon, Tana Toraja.
Di sana, ia harus beradaptasi dengan kehidupan yang jauh dari teknologi modern dan kenyamanan kota.
Hari-harinya mulai berubah ketika ia bertemu enam murid dengan karakter unik: Karno, Harto, Mega, Bambang, Wahid, dan Habi.
Nama mereka terinspirasi dari nama-nama presiden Indonesia, yang memberi warna tersendiri pada jalan cerita.
Awalnya, hubungan antara Angkasa dan para murid terasa canggung dan penuh jarak. Namun perlahan, tumbuh rasa saling percaya, kehangatan, dan persahabatan yang tulus di antara mereka.
Film ini tidak hanya menggambarkan perjuangan seorang guru dalam mengajar, tetapi juga bagaimana seseorang bisa menemukan kembali makna keluarga dan cinta dalam kesederhanaan.
“Solata” dalam bahasa Toraja berarti “teman,” dan makna itu menjadi benang merah sepanjang film.
Dari hubungan yang awalnya asing, lahirlah persaudaraan yang hangat dan tulus, seolah mereka telah menjadi satu keluarga.
Pemeran film ini juga diisi oleh banyak nama berbakat. Rendy Kjaernett berperan sebagai Angkasa, tokoh utama yang mencari makna hidup di tanah Toraja. Ada juga Rachel Natasya sebagai Lembayung, Fhail Firmansyah sebagai Abun, dan Davina Karamoy sebagai Diska. Enam murid yang mencuri perhatian diperankan oleh aktor dan aktris muda seperti Keyso Sombolinggi (Karno), Maulana Eka Putra (Harto), Amel Komba (Mega), Suray Parrangan (Bambang), Gabriel Alexander (Wahid), dan Ince Amira (Habi). Setiap karakter membawa warna dan pesan tersendiri tentang pendidikan, semangat, dan kebersamaan.
Proses pembuatan film Sinopsis Film Solata juga penuh perjuangan. Pengambilan gambar dilakukan di Pegunungan Ollon, wilayah indah namun sulit dijangkau di Tana Toraja.
Para kru dan pemain harus menempuh perjalanan panjang hingga tiga jam dari Makale menggunakan truk sapi melewati jalan rusak dan terjal.
Meski begitu, tantangan itu sebanding dengan hasil yang memukau. Keindahan alam Toraja yang disuguhkan menjadi latar kuat yang menambah kehangatan cerita.
Sutradara Ichwan Persada telah menyiapkan ide film ini sejak 2012 dengan judul awal Nyanyian Merah Hati. Inspirasi besarnya datang setelah ia menonton film asal Bhutan, Lunana: A Yak in the Classroom.
Ia merasa Tana Toraja punya nilai dan lanskap yang sama indahnya, serta penuh filosofi kehidupan yang layak diangkat ke layar lebar.
Film ini bukan sekadar tontonan tentang pendidikan, tapi juga refleksi kehidupan.
Lewat perjuangan Angkasa dan murid-muridnya, penonton diajak melihat bahwa dalam keterbatasan pun, harapan selalu bisa tumbuh.
Sinopsis Film Solata menjadi pengingat bahwa persahabatan dan ketulusan bisa membuat siapa pun menemukan arti hidup yang sebenarnya.***












