Serbaseru – Film Pelangi di Mars menjadi salah satu film Indonesia yang paling dinanti pada tahun 2026.
Mengusung genre fiksi ilmiah dan petualangan keluarga, film ini menghadirkan kisah yang penuh imajinasi, namun tetap terasa hangat dan emosional.
Ceritanya bukan hanya soal luar angkasa dan teknologi, tapi juga tentang keluarga, pengorbanan, dan harapan.
Pelangi di Mars bercerita tentang Pelangi, manusia pertama yang lahir dan tumbuh di planet Mars. Sejak lahir, hidup Pelangi sudah berbeda dari manusia pada umumnya.
Ia tidak pernah melihat laut, hutan, atau langit biru Bumi. Yang ia kenal hanyalah pasir merah, langit asing, dan kesunyian yang panjang.
Koloni manusia yang dulu menetap di Mars akhirnya kembali ke Bumi, termasuk ibu Pelangi. Ia ditinggalkan sendirian demi misi yang lebih besar, yaitu menyelamatkan planet asal manusia.
Kepergian sang ibu bukan karena meninggalkan tanpa alasan. Bumi sedang menghadapi krisis air yang mengancam kehidupan umat manusia.
Untuk itulah misi besar dijalankan, meski harus mengorbankan perpisahan yang menyakitkan. Pelangi tumbuh di Mars dengan teknologi terbatas dan kenangan samar tentang kasih sayang seorang ibu.
Setiap hari ia bertahan hidup sambil menyimpan mimpi sederhana, yaitu pulang ke Bumi dan bertemu ayahnya.
Hidup Pelangi mulai berubah saat ia bertemu sekelompok robot tua yang sudah lama terlupakan.
Robot-robot ini dulunya diciptakan untuk membantu misi manusia di Mars, namun ditinggalkan begitu saja ketika koloni kembali ke Bumi.
Dari pertemuan itulah Pelangi tidak lagi merasa sendirian. Para robot menjadi teman, pelindung, dan keluarga barunya di planet yang asing.
Bersama para robot, Pelangi memulai petualangan berbahaya mencari mineral langka bernama Zeolit Omega.
Mineral ini diyakini mampu memurnikan air dan menjadi solusi atas krisis yang melanda Bumi. Perjalanan tersebut tidak mudah.
Medan Mars yang keras, keterbatasan teknologi, dan risiko besar menjadi tantangan yang harus dihadapi Pelangi di usia yang masih sangat muda.
Di balik kisah petualangan luar angkasa, film ini juga menyimpan cerita emosional tentang pengorbanan orang tua dan keteguhan seorang anak.
Pelangi digambarkan sebagai simbol harapan terakhir umat manusia. Meski kecil dan hidup jauh dari Bumi, keberaniannya mampu membawa harapan bagi masa depan banyak orang.
Menariknya, film ini terinspirasi dari sosok nyata Pratiwi Sudarmono, astronot perempuan pertama Indonesia.
Pada tahun 1985, Pratiwi terpilih mengikuti program astronot National Aeronautics and Space Administration setelah menyisihkan ratusan pesaing.
Meski misinya harus tertunda akibat tragedi meledaknya pesawat Challenger, status dan dedikasinya di dunia sains tetap diakui secara global.
Karakter ibu Pelangi memang fiksi, namun semangatnya terinspirasi dari sosok Pratiwi yang dikenal sebagai dokter, peneliti, dosen, dan Guru Besar di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Produser Dendi Reynando pun merasa bangga bisa membawa semangat tersebut ke dalam film ini.
Pelangi di Mars bukan sekadar film petualangan anak-anak. Film ini membawa pesan bahwa mimpi yang tertunda tidak pernah benar-benar hilang.
Ia bisa tumbuh menjadi inspirasi bagi generasi berikutnya, selama harapan tetap dijaga, bahkan dari planet yang paling jauh sekalipun.***












